Showing posts with label production house. Show all posts
Showing posts with label production house. Show all posts

Production House dan Dunia Sinetron Indonesia

Posted by jenggot kambing on Wednesday, July 22, 2009

Menghitung piutang production house pada stasiun teve

Kerja sama Production House (PH) dengan stasiun televisi menyimpan bom waktu. Ujung pangkalnya adalah pembayaran yang sering telat. Tunggakan kerja sama ini mencapai puluhan miliar. Production House mesti pintar-pintar mengelola bisnisnya.

Betapa indahnya layar kaca. Tiap menit, mata kita dirayu terus untuk memelototi berbagai acara teve. Televisi memang telah menjelma sebagai hiburan semua kelompok umur. Mau berita, film kartun, musik, sinetron, film, bahkan televisi bisa menjadi tambang mencari peruntungan seperti mengikuti aneka kuis.

Tak semua acara tersebut bikinan stasiun televisi. Banyak program hasil produksi pihak luar stasiun, yang sering disebut sebagai Production House Company atawa rumah produksi. Malah, program buatan PH ini kerap hadir pada saat prime time. Sampai-sampai televisi hanya kebagian mengisi layar kacanya sendiri dengan berita dan musik. Selebihnya, selain film dan serial, PH-lah yang memasok acaranya.

Sepintas tampak betapa gurihnya bisnis Production House Company ini, seperti terlihat dari panenan iklan yang menghampiri jam prime time. Namun, ternyata ada pula perkara utang-piutang yang macet dalam bisnis ini. Misalnya, terbetik kabar bahwa RCTI menunggak pembayaran sebanyak Rp 60 miliar kepada Sinemart. Ironisnya, Sinemart adalah PH yang membikin sinetron yang menaikkan peringkat RCTI sehingga menjadi salah satu televisi yang ditonton orang. Lalu, Trans TV kabarnya juga berutang pada Bintang Group sebesar Rp 6 miliar.

Dunia bisnis Production House Jakarta memang tidak senantiasa seindah penampakan sinetronnya yang banyak dibalut kemewahan. Presiden Direktur Trans TV Ishadi S.K. mengatakan bahwa tunggakan stasiun televisi ke Production House Jakarta adalah hal yang wajar, karena masih dalam batas normal bisnis televisi. "Ini kan bisnis televisi, bukan jual sepeda motor. Yang penting angsuran dibayar terus dan ada komitmen membayar tidak berhenti," katanya.

Ilham Bintang mengamini hal tersebut. "So far so good," ujar pemilik Bintang Group ini. Ilham mengaku banyak mengalami kemacetan semasa krisis ekonomi beberapa tahun lalu. Sejak itu, katanya, ia memilih menjual putus produksinya kepada stasiun televisi. "Bayarnya, kadang tiap bulan atau sekitar 16 episode," lanjutnya. Kalaupun telat bayar, ia pun menganggap masih lazim selama program masih terus diproduksi (Event Organizer).

Leo Sutanto, pemilik Sinemart, membenarkan adanya tunggakan yang besar. Namun, menurut dia, dibandingkan dengan durasi tayang keseluruhan sinetron produksi Sinemart saban minggu, angka Rp 60 miliar masih kecil. "Itu tunggakan berjalan, karena kadang pembayarannya lebih kadang kurang. Kita tidak kuatir, kok!" kilah Leo.

Dalam seminggu, Sinemart (Event Organizer) bisa mengisi layar kaca RCTI sampai 24 jam. Ada dua judul sinetron yang stripping alias jadwal tayangnya tiap hari, selain 12 judul sinetron yang tayang seminggu sekali.

forum.kafegaul.com

Dukung Kampanye Stop Dreaming Start Action Sekarang
More aboutProduction House dan Dunia Sinetron Indonesia

Pembeli Program Rumah Produksi

Posted by gelasbagus on Thursday, July 16, 2009

Rumah produksi di dalam negeri dinilai mampu memenuhi kebutuhan konten televisi berbayar, bergantung pada pesanan operator TV berlangganan yang menjadi pembeli program.

Riza Primadi, Direktur PT Adi Karya Visi (AKV), mengatakan pihaknya telah menggunakan jasa production house di dalam negeri untuk membuat program drama yang tayang pada televisi berbayar di Vietnam dan Singapura.

Adi Karya Visi merupakan perusahaan pengumpul (agregator) konten yang memasok program-programnya untuk Astro, televisi berbayar yang berbasis di Malaysia.

AKV mendapatkan konten dengan cara memproduksi sendiri, meminta production house company untuk memproduksi, dan membeli program yang diproduksi oleh orang lain. "Hasil produksi production house Jakarta di dalam negeri cukup layak untuk ditayangkan oleh televisi berbayar. Tergantung pada bagaimana standar yang ditentukan [oleh si pembeli konten]. Kalau standarnya ditinggikan, mereka bisa mengikutinya. Tergantung pesanan," ujarnya kepada Bisnis, kemarin.

Saat ini, AKV memasok dua channel untuk tayangan televisi berbayar di Vietnam dan dua channel untuk tayangan di Singapura. Konten channel untuk Vietnam terdiri dari drama dan bisnis, sedangkan untuk Singapura berupa drama dan channel umum. Dia menyebutkan di Indonesia, perusahaan yang menjadi pengumpul konten hanya AKV. "Setahu saya, baru AKV," kata Riza.

Raam Punjabi, Presiden Direktur PT Tripar Multivision Plus, juga menyebutkan production house di dalam negeri siap memenuhi kebutuhan konten lokal untuk tayang pada televisi berbayar.
Dia menolak anggapan dari operator televisi berbayar bahwa production house company dalam negeri tidak mampu membuat program acara untuk ditayangkan setiap hari secara berkelanjutan selama setahun. "Mereka [operator televisi berbayar] lebih memilih membeli konten asing yang sudah siap karena harganya lebih murah jika dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk membuat konten dari awal dengan memakai production house Jakarta," katanya.

Dia mengatakan orientasi operator televisi berbayar adalah meraup keuntungan sebanyak-banyaknya, sehingga lebih memilih program asing untuk meminimalkan biaya. "Operator televisi berbayar menggunakan alasan bahwa rumah produksi lokal tidak mampu membuat program untuk setahun penuh, padahal alasannya lebih kepada untuk mendapatkan harga yang lebih murah kalau membeli program asing," ujar Raam

http://web.bisnis.com/

Dukung Kampanye Stop Dreaming Start Action Sekarang
More aboutPembeli Program Rumah Produksi

Seluk Beluk Production House

Posted by jenggot kambing on Friday, June 26, 2009

Kerja sama production house (PH) dengan stasiun televisi menyimpan bom waktu. Ujung pangkalnya adalah pembayaran yang sering telat. Tunggakan kerja sama ini mencapai puluhan miliar. PH mesti pintar-pintar mengelola bisnisnya

Dunia bisnis production house memang tidak senantiasa seindah penampakan sinetronnya yang banyak dibalut kemewahan. Presiden Direktur Trans TV Ishadi S.K. mengatakan bahwa tunggakan stasiun televisi ke PH adalah hal yang wajar, karena masih dalam batas normal bisnis televisi. "Ini kan bisnis televisi, bukan jual sepeda motor. Yang penting angsuran dibayar terus dan ada komitmen membayar tidak berhenti," katanya.

Bisnis Production House Company (PH) harus kuat modalnya. Bagaimana tidak, bisnis ini membutuhkan investasi untuk alat yang harganya mahal. Lalu, ada ongkos operasional yang tidak murah. Untuk memproduksi satu episode sinetron (Exhibition Organizer) dibutuhkan modal sekitar Rp 250 juta-Rp 300 juta. Adapun satu film layar lebar mencapai Rp 1 miliar. Gawatnya, keuntungan juga tidak bisa langsung dinikmati. Perlu dua atau tiga bulan untuk menerima hasil keringat.

Seiring perjalanan waktu dan tren bisnis hiburan, peran PH atau Exhibition Organizer justru kian tergusur. Beberapa stasiun televisi mulai mengembangkan in-house production alias memberdayakan awak stasiun sendiri. Di Trans TV, misalnya, tayangan produksi in house mencapai 75%, sisanya baru digarap PH. "Dengan in house kita bisa lebih kreatif, cepat memutuskan perubahan program, dan lebih hemat," ujar Ishadi S.K., Presiden Direktur Trans TV.

RCTI juga mengikuti jejak Trans TV. Mereka membangun in-house production yang dinamakan MNC (Media Nusantara Citra). Cuma, karyanya baru sebatas sinetron remaja dan film televisi. Itu pun, menurut Wakil Direktur Utama RCTI Sutanto Hartono, sinetron produksi in house belum bisa mengimbangi kualitas produk Production House Jakarta. Apalagi pada awal produksi, biasanya selalu rugi belum bisa untung. "Masalahnya, apakah teve punya keahlian dan komitmen atau enggak, karena awalnya negatif terus return-nya," terang Sutanto.

Lantaran berkeinginan mendorong peran in-house production, tak heran jika kebijakan stasiun televisi terasa makin memberatkan Production House Company. Misalnya, untuk acara pada jam prime time tak ada lagi sistem revenue sharing (bagi hasil). "Kontraknya beli putus, lalu program menjadi milik mereka seumur hidup," kata Leo Sutanto, pemilik Sinemart.

Bagi Production House Jakarta, melihat situasi seperti ini, pilihannya cuma satu. Yaitu: memperkuat daya tawar, dengan membuat program yang bagus. Atau, kalah. Maklum, saingan PH itu bak api dalam sekam.

forum.kafegaul.com

Temukan berbagai informasi lainnya mengenai Production House - Production House Company - Production House Jakarta - Event Organizer - Exhibition Organizer hanya di 88db.com
More aboutSeluk Beluk Production House