Showing posts with label produk olahan. Show all posts
Showing posts with label produk olahan. Show all posts

Bahan Kimia Sabun

Posted by gelasbagus on Monday, June 1, 2009

Gawat ekonomi bagaimanapun orang-orang tetap membutuhkan produk sabun untuk mencuci, sampai yang paling parah sekalipun tetap masih menggunakan sabun curah batangan dari penjual sabun. Nah, berikut adalah tips memilih sabun cair yang betul-betul cocok digunakan. Syaratnya:
1. Deterjen tersebut ramah lingkungan. Cara pengujiannya:
-campur produk sabun cair dengan air, aduk merata, kemudian siramkan ke tanaman & tanah.

lihat hasilnya:
- apakah sabun dari penjual sabun tersebut biodegradeable (mudah terurai secara alamiah, tidak meninggalkan bekas)
- jika ke tanaman, apakah tanaman tersebut masih hidup di hari-hari berikutnya?

2. Tidak panas di tangan.
Deterjen yang menyebabkan panas apabila digenggam di tangan adalah karena reaksi dari soda campuran sabun cair tersebut terhadap lemak dibahwa lapisan kulit. Soda nama kimianya Sodium Hydroxide (NaOH). Industri produk sabun cair menggunakan ini karena murah dan penangannya mudah (gimana nasib penggunanya?). Sangat berbahaya, dalam dosis kecil bersifat korosif, jika banyak dapat menimbulkan iritasi. cara pengujian: larutkan produk sabun dalam air secukupnya, kemudian rendamlah beberapa logam besi (misal: paku), biarkan beberapa hari. Hasilnya:
Paku akan berkarat (tanda Sodium Hydroxide mulai bekerja).
Bayangkan jika itu terjadi pada pakaian anda? (pakaian jadinya mudah lapuk)

3. Tidak banyak berbusa.
Asumsi ibu-ibu makin banyak busa sabun curah makin enak nyucinya, makin bersih… Attention Please !!! Asumsi belum tentu benar. Sebelum kita menggunakan sesuatu pertimbangkanlah secara matang keuntungan dan kerugian yang akan timbul darinya. Busa ( Carboxyl Methyl Cellulose) sejenis bahan kimia yang hanya menghasilkan buih. Reaksi terhadap pakaian tidak ada. Karena banyak busa sabun maka kita makin asik menyikat pakaian, akhirnya kotoranpun copot dan pakaian pun rusak karena bolak-balik disikat. Keuntungan banyak busa: Tidak ada.
Kerugian:
- Pemakaian air bertambah (untuk membilas).
- Tenaga lebih banyak keluar.
- Waktupun lebih banyak terbuang (karena harus membilas)

Nah, sampai batas ini saya hanya bisa menyarankan Anda untuk menanyakannya kepada pihak produsen deterjen Anda.

http://4humanity.wordpress.com/

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan lihat di
Sabun cair ~ Produk sabun cair ~ Produk sabun ~ Jual sabun ~ Sabun curah ~ Sabun dan Sabun Cair : Produk Sabun Cair – Jual Sabun Cair Curah Jakarta di 88db.com

More aboutBahan Kimia Sabun

teknologi pertanian

Posted by tangandingin on Saturday, April 18, 2009

Teknologi Pengolahan Tanaman Obat

Saat ini industri tanaman pertanian pangan obat tradisional telah berkembang pesat di Indonesia, tetapi pertanian pangan (terutama pada skala teknologi produk industri rumah tangga) apakah produknya sudah optimal dan memenuhi standar mutu? Pada kesempatan ini akan diinformasikan bagaimana teknik pengolahan teknologi pertanian dari beberapa jenis tanaman produk pertanian obat yang baik (jahe, temulawak, kunyit, kencur, sambiloto, pegagan). teknologi pertanian pengolahan sangat berpengaruh terhadap khasiat dariproduk tanaman yang diperoleh. Jika penanganan ataupun pengolahannya tidak benar maka mutu produk yang dihasilkan kurang berkhasiat atau kemungkinan dapat menimbulkan toksik apabila dikonsumsi.

Teknik teknologi pangan pengolahan tanaman obat terdiri dari sortasi, pencucian, penjemuran/penirisan, pengirisan /perajangan, dan teknologi pangan lebih lanjut menjadi berbagai produk/diversifikasi produk. Tanaman obat dapat diolah menjadi simplisia, serbuk, minyak atsiri, ekstrak kental/kering, kapsul, tablet dan minuman (sirup, instant, permen) dll.

Karakteristik Inovasi Teknologi

  • Penyortiran

    Penyortiran harus segera dilakukan setelah bahan produk pertanian selesai dipanen, terutama untuk komoditas pertanian pangan temu-temuan, seperti: kunyit, temulawak, jahe dan kencur. Rimpang yang baik dengan yang busuk harus segera dipisahkan juga tanah, pasir maupun gulma yang menempel harus segera dibersihkan.

  • Pencucian

    Setelah disortir bahan produk pangan harus segera dicuci sampai bersih jangan dibiarkan tanah berlama-lama menempel pada rimpang karena dapat mempengaruhi mutu bahan. Pencucian harus menggunakan air bersih, seperti : air dari mata air, sumur atau PAM. Cara pencucian dapat dilakukan dengan cara merendam sambil disikat menggunakan sikat yang halus. Perendaman tidak boleh terlalu lama karena zat-zat tertentu yang terdapat dalam bahan dapat larut dalam air sehingga mutu bahan menurun. Penyikatan diperbolehkan karena bahan yang berasal dari rimpang pada umumnya terdapat banyak lekukan sehingga perlu dibantu dengan sikat. Tetapi untuk bahan yang berupa daun-daunan produk pangan cukup dicuci dibak pencucian sampai bersih dan jangan sampai direndam berlama-lama.

  • Penirisan dan Pengeringan

    Selesai pencucian pertanian pangan rimpang, daun atau herbal ditiriskan dirak-rak pengering. Hal ini dilakukan sampai bahan obat pertanian tidak meneteskan air lagi. Untuk komoditas temu-temuan pengeringan rimpang dilakukan selama 4-6 hari dan cukup didalam ruangan saja.

  • Penyimpanan

    Jika belum diolah teknologi produk bahan dapat dikemas dengan menggunakan jala plastik, kertas maupun karung goni yang terbuat dari bahan yang tidak beracun/tidak bereaksi dengan bahan yang disimpan. Pada kemasan jangan lupa beri label dan cantumkan nama bahan, bagian tanaman yang digunakan, no/kode produksi, nama/alamat penghasil dan berat bersih.

  • Pengolahan

    Dalam pengolahan tanaman obat pertanian perlu diperhatikan teknik pengolahan yang baik karena menyangkut standar mutu. Hal ini ada hubungannya dengan masalah kebersihan maupun bahan aktif.

http://www.ubb.ac.id

Temukan semua :

Teknologi Pertanian | Obat Pertanian | Teknologi Pangan | Teknologi Produk | Produk Pertanian | Produk Pangan | Pertanian Pangan | Pertanian Pangan

Dan Teknologi Pertanian&Pangan:Teknologi Produk Pertanian&Obat Pertanian Bandung Jawa Barat semua ada di 88db.com

More aboutteknologi pertanian