Pasang Iklan: Sosial Media, Menghilangkan Konsep Iklan Klasik

Posted by jenggot kambing on Tuesday, May 25, 2010


Trend konsumen kini telah berubah. Jutaan orang di seluruh dunia kini telah terhubung sosial media di internet. Perlahan-lahan kebiasaan baru ini membunuh konsep cara pasang iklan klasik.

Hal tersebut diungakap oleh Nukman Luthfie, CEO Virtual Consulting dalam seminar bertajuk Sharpening Your Social Media, bertempat di Hotel Inter Continental Jakarta.

"Sosial media kini menjadi point of contact paling mesra bagi konsumen," ujarnya kepada peserta seminar yang berjumlah diatas 100 peserta.

Ia pun memberi contoh konsep iklan klasik era David Ogilvy, yang menebar brand awarnes kemana-mana. Hal tersebut kini tak lagi efektif. Sebagai gantinya, pendekatan interpersonal ke konsumen melalui sosial media kini lebih penting.

"Listening first, selling second. Anda harus lebih dekat dengan konsumen, tanpa menyinggung brand," tambahnya.

Perbedaan Advertising tahun 1980 vs 2009

Di tahun 1980, penggunaan media klasik untuk menanamkan brand awareness adalah hal yang efektif. Di tahun itu klien pasang iklan banyak memasang produknya di Surat kabar, radio, TV/Cinema, poster/billboards, dan secara direct marketing.

Kini, tren tersebut telah berubah. Lalu, media apa yang paling efektif untuk 'menancapkan kuku-kuku' sebuah brand di masyarakat? Sebut saja YouTube, facebook, twitter, Google, Yahoo!, aplikasi mobile, in-game advertising, dan masih banyak lagi. Serentetan media tersebut kini mulai banyak digunakan suatu perusahaan untuk memperluas pasar mereka.

Salah satu contoh perusahaan yang cukup sukses dengan penggunaan strategi sosial medianya adalah Dell. Perusahaan ini membuktikan bahwa Twitter dapat menjadi alat marketing yang ampuh. Dengan rajin menuliskan tweet (status), Dell sukses meraup penjualan luar biasa.

Outlet Dell pun menggunakan Twitter untuk menginformasikan kabar terbaru, seperti penjualan, kupon dan diskon-diskon yang sedang digelar.

Dell memposting info-info khusus, sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan konsumennya. Para konsumen berhasil digiring ke situs resmi Dell yang berujung dengan pembelian produk mereka.

Bagi Dell, Twitter telah menjadi bagian dari operasional marketing perusahaan. Lebih dari 100 pekerja melakukan tweet kepada konsumen mereka masing-masing. Alhasil Dell memiliki 1,5 juta follower, dengan keuntungan akhir tahun mencapai sekitar Rp. 61 miliar.

Kenalilah Influencer Produk Anda

Pada suatu kasus, Nukman memberi contoh penggunaan twitter lebih efektif dari pasang iklan dimana-mana. Misalnya jika seorang konsumen bertanya kepada jurnalis yang ia follow di twitter, soal merek laptop apa yang cocok dengan dia. Seandainya sang jurnalis menyarankan merek A, pasti konsumen akan ter-persuasif dengan lebih yakin sebelum membelinya.

Nah, konsep-konsep strategi sosial media seperti ini, dirasa lebih efektif dari pemasangan produk iklan di TV, billboard atau media cetak.

Maka Nukman pun memberi nasehat kepada peserta seminar yang kebanyakan berprofesi marketing dan PR. "Maka kenalilah influencer produk anda di social media, karena orang ngobrol itu pengaruhnya besar," paparnya.

detikinet.com


{ 0 comments... read them below or add one }